Subscribe:

Tentang Template :

Keterlibatan Bidan Desa Minimalkan Risiko Kematian Bayi

Angka kematian bayi di negara-negara berkembang hingga saat ini masih cukup tinggi, khususnya pada fase neonatal, yakni pada bayi berusia kurang dari 1 bulan. Setiap tahun, terdapat sekitar 10 juta anak berusia di bawah lima tahun meninggal dan kurang lebih 37%-nya meninggal pada tahap neonatal.


Pada tahun 2000 hingga 2003, WHO memperkirakan kematian pada anak lebih banyak disebabkan oleh pneumonia (19%), diare (17%), dan malaria (8%). Sementara 4 juta anak yang meninggal pada tahap neonatal disebabkan oleh gangguan pernafasan (23%), kelainan bawaan (7%), dan infeksi (36%). Di samping penyebab tersebut, kematian pada bayi, khususnya pada tahap post-neonatal, adalah akibat kurangnya asupan nutrisi.


Meningkatkan kesehatan ibu hamil, proses kelahiran, dan perawatan bayi baru lahir merupakan beberapa cara yang dapat menekan risiko kematian para bayi tersebut. Pada daerah yang sulit untuk mengakses fasilitas kesehatan, proses persalinan masih banyak dilakukan di rumah yang kebanyakan kurang diperhatikan perawatannya. Dalam hal ini, keberadaan bidan desa menjadi sangat penting untuk membantu persalinan tersebut.


Melepas Jerat Nikotin

Candu nikotin dalam rokok sepuluh kali lebih kuat daripada kokain dan morfin.


Berhenti merokok bukan hal mudah. Namun bukan berarti itu tidak bisa dilakukan. Ardi misalnya, laki-laki 40 tahun yang merokok sejak duduk di bangku SMP itu sudah setahun ini terbebas dari kebiasaan merokok. Padahal sebelumnya ia biasa mengisap 1-2 bungkus rokok per hari.


Diakui Ardi, perlu perjuangan berat untuk bisa lepas dari batang-batang tembakau yang sebelumnya selalu menemani hari-harinya. Dalam usahanya, pernah beberapa kali ia putus nyambung dengan rokok.


“Sempat berhenti seminggu dua minggu, tapi sesudahnya merokok lagi. Begitu terjadi berulang-ulang,” ujar wiraswasta asal Jakarta Barat itu.


Menurut Ardi, satu hal yang dirasakannya sangat mengganggu di awal-awal berhenti merokok adalah rasa tidak nyaman. Ia jadi mudah gelisah, suntuk, mudah marah, dan pening kepala. Saat-saat itulah godaan untuk merokok datang begitu kuat.


“Terlebih saat berkumpul bersama teman perokok atau melihat rokok yang dipajang penjual,” kata Ardi. Lantas, apa rahasia sukses Ardi?


Menurutnya, ada dua hal yang membuatnya sanggup melepaskan diri dari candu nikotin. Yakni, tekad dalam diri serta dukungan kuat dari keluarga.


“Awalnya ada dorongan dari istri. Hampir tiap hari ia selalu bicara bahaya rokok buat kesehatan. Setiap kali ada artikel di Koran, majalah, internet, atau brosur yang membahas soal itu, ia tunjukkan ke saya. Ia juga mengait-ngaitkan kebiasaan merokok dengan pemborosan,” terang Ardi.


Perempuan dan Tembakau

Industri tembakau telah menjadikan perempuan dan anak perempuan sebagai target pemasaran dan periklanannya dalam beberapa dekade terakhir ini dengan konsekuensi yang membawa malapetaka bagi kesehatan perempuan. Hasilnya, sebanyak 178.000 perempuan meninggal setiap tahunnya karena penyakit yang disebabkan oleh tembakau. Sejak tahun 1987, kanker paru-paru telah menjadi pembunuh kanker utama pada perempuan. Penyakit jantung merupakan penyebab kematian yang utama pada perempuan, dan satu dari lima kematian dari penyakit jantung adalah karena merokok. Penelitian menunjukkan bahwa dari banyaknya penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan merokok, perempuan lebih berisiko dari pada pria. Dan perempuan juga menderita risiko spesifik-gender dari tembakau, termasuk membahayakan kesehatan reproduksinya dan mengalami komplikasi selama kehamilan.


Di Indonesia, prevalensi perempuan dewasa perokok mengalami kenaikan tiga kali lipat di tahun 2001. Prevalensi meningkat dari 1,3% di tahun 2001 menjadi 4,5% di tahun 2004 (Gambar 1.1). Perempuan dan orang muda merupakan target pasar yang menjanjikan bagi industri tembakau.


Antara tahun 2001 dan 2004, prevalensi merokok meningkat di kelompok umur sampai pertengahan tahun hidup. Peningkatan tertinggi secara terus menerus terjadi di kelompok umur 15-19 tahun dari 7,1% di tahun 1995 naik menjadi 12,7% di tahun 2001 dan 17,3% di 2004, dengan persentase peningkatan pada perokok pria sebanyak 35 poin dan pada perokok perempuan sebanyak 850 poin atau sembilan kali dibandingkan tahun 2001.  Prevalensi merokok pada perempuan mengalami kenaikan yang sangat tinggi di semua kelompok umur.