Subscribe:

Tentang Template :

Showing posts with label Persalinan. Show all posts
Showing posts with label Persalinan. Show all posts

Rambut Rontok Pasca Melahirkan? Berikut Penyebab dan Tips Mengatasinya


Ada semacam mitos yang mengatakan bahwa wanita akan sehat kembali hanya dalam enam minggu setelah proses melahirkan bayi. Padahal, perubahan hormonal dan fisik masih terjadi sampai beberapa bulan berikutnya. Salah satu contoh perubahannya adalah rambut rontok pasca melahirkan yang bisa terjadi selama tiga sampai enam bulan setelah melahirkan.

Setelah semua usaha dan kejutan yang terjadi selama kehamilan, melahirkan, dan periode awal bayi lahir, para ibu sangat berharap bahwa mereka telah melewati klimaksnya. Sebagai akibatnya, mereka akan sangat terkejut ketika mereka menemukan tumpukan rambut di tangan mereka saat mereka keramas, rambut yang ikut terguyur air saat menggunakan shower atau sisir rambut yang dipenuhi oleh ribuan helai rambut.

Perubahan hormonal saat kehamilan membuat rambut anda tampak lebih cantik. Rambut menjadi lebih berkilau, lebih halus, lebih tebal. Ujung rambut tidak bercabang. Rambut tidak rontok. Bahkan warna rambut juga bisa berubah. Rambut yang lurus bisa menjadi bergelombang atau rambut bergelombang bisa menjadi lurus. Wanita biasanya kehilangan 100 helai rambut tiap harinya. Semua rambut tersebut tidak rontok selama masa kehamilan. Umumnya antara 3 sampai 6 bulan setelah melahirkan anda akan menemukan jumlah rambut yang rontok bertambah – bahkan kadang anda akan menemukan rambut rontok sebanyak satu genggaman tangan !

Apa Yang Menyebabkan Rambut Rontok Pasca Melahirkan?

Siklus pertumbuhan rambut yang normal dibedakan dalam dua fase – fase pertumbuhan dan fase istirahat. Siklus pertumbuhan berlangsung selama 3 tahun dan fase istirahat berlangsung sekitar 3 bulan. Durasi ini sangat berbeda-beda dari satu orang ke orang yang lainnya. Umumnya 85-95% rambut masih dalam fase pertumbuhan. Selama masa istirahat, rambut akan berada di folikel sampai rambut tersebut didorong keluar oleh rambut baru yang tumbuh. Akan tetapi, selama kehamilan, hormon merangsang pertumbuhan rambut dan persentasenya.

Dengan adanya proses kelahiran, lebih banyak jumlah rambut-rambut yang memasuki fase istirahat dan rambut-rambut tersebut akan terdorong keluar antara 3 sampai 6 bulan setelah melahirkan. Kebanyakan wanita akan mendapatkan siklus pertumbuhan rambut yang normal kembali 6 – 12 bulan setelah melahirkan.

Tips untuk merasa nyaman dengan rambut anda
  • Cobalah gaya rambut yang bagus
  • Cobalah beberapa gaya yang berbeda
  • Gunakan shampoo dan kondisioner yang baik kualitasnya
  • Coba gunakan produk berbeda yang akan membuat rambut anda mengembang
  • Hindari menggunakan sikat atau sisir rambut yang akan menarik dan menekan rambut
  • Konsumsi protein yang cukup dan minum suplemen vitamin
Nutrisi untuk Kesehatan Rambut
  • Biotin : daging, kacang kering, biji-bijian
  • B6 : daging, kacang-kacangan, biji-bijian
  • Asam omega 3 : salmon, biji-bijian, kacang makadamia, kenari
  • Tembaga : biji-bijian, buah kering, almon, sayuran
  • Zinc : biji-bijian, sayuran, daging, makanan laut
  • Jika anda termasuk dalam 50 persen wanita yang mengalami hal ini, ingatlah bahwa hal ini hanyalah bersifat sementara saja dan kabar baiknya adalah setiap ada rambut yang rontok, akan ada rambut baru yang tumbuh.

Sumber : bidanku.com

Seputar Persalinan Kembar

Kehamilan multipel (multiple pregnancy) adalah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Sering disebut juga sebagai kehamilan kembar (twin pregnancy). Ibu yang melahirkan bayi kembar akan lebih banyak membutuhkan dukungan, baik itu secara lahiriah maupun jasmaniah. Kehamilan kembar memang beresiko terhadap persalinan yang lebih besar dibanding kehamilan tunggal. Kesulitan yang sering didapati antara lain anemia, air ketuban meningkat 10 kali lipat sehingga rahim lebih meregang dan menyebabkan resiko persalinan prematur, kontraksi rahim kurang dan pendarahan sesudah melahirkan meningkat. Namun, dengan segala risiko tersebut jangan membuat Anda merasa terbebani. Yang penting, rajin berkonsultasi ke dokter dan ikuti semua saran kesehatan bagi kehamilan dan persalinan kembar untuk mencegah segala kemungkinan.


Berikut ini ada beberapa saran yang dapat diikuti untuk mempersiapkan kelahiran si kembar:
  • Kontrol kehamilan lebih sering dari biasanya, kira-kira pada usia kehamilan 24 minggu dianjurkan tiap 2 minggu sekali dan saat kehamilan 36 minggu tiap seminggu sekali.
  • Perbanyak istirahat dengan sering berbaring, sehingga aliran darah ke plasenta meningkat dan pertumbuhan janin menjadi lebih pesat.
  • Setelah usia kehamilan 30 minggu hendaknya Anda menghindari diri dari berpergian jauh dan berhubungan seks.
  • Perbanyak makanan mengandung protein, dan makanlah lebih sering, namun dengan porsi lebih sedikit. Karena kebutuhan zat besi pada ibu hamil kembar lebih besar untuk mencukupi kebutuhan 2 janin dan agar pengeceran volume darah ibu lebih meningkat. Karenanya, ibu perlu sering melakukan pemeriksaan kadar Hb dan mengetahui jenis golongan darah serta rhesus ibu untuk persiapan tranfusi jika diperlukan.
  • Minum secara teratur suplemen penambah darah yang diberikan oleh dokter untuk mencegah anemia dan sekaligus sebagai nutrisi untuk kedua janin.

BATAS waktu kelahiran anak kedua antara 5 - 15 menit sesudah anak pertama. Jika terlalu cepat, trauma persalinan pada anak kedua lebih besar (setelah ikut stress pada waktu anak pertama lahir, harus mengalami stress lagi pada persalinannya sendiri). Jika terlalu lama, dapat terjadi hipoksia.

Beberapa kepustakaan menganjurkan penundaan pemotongan tali pusat (delayed clamping) setelah lahir anak pertama, atau darah dari potongan tali pusat anak pertama diurut kembali ke arah plasenta, untuk memberi tambahan pada anak kedua yang masih berada di dalam. Namun manfaat hal-hal ini masih kontroversial. Masalah Yang Mungkin Terjadi Pada Saat Persalinan Bayi Kembar

  1. Mungkin anak pertama melintang atau sungsang dan anak kedua memanjang yang biasa disebut posisi 69 (terjadi posisi saling mengunci / interlocking). Interlocking ini dimungkinkan karena pada kehamilan kembar umumnya janin tidak terlalu besar, sedangkan cairan ketuban lebih banyak dari biasanya. Akibatnya, sering terjadi perubahan posisi janin. Bila anak pertama letaknya membujur, maka persalinan dilakukan seperti biasa. Yang harus diwaspadai justru pada anak kedua, baik letak sungsang maupun kepala. Kalau letak sungsang, maka ketubannya harus dipecahkan dan dibantu kelahiran lewat bokong. Kakinya ditarik keluar.
  2. Mungkin terjadi prolaps tali pusat (risiko tinggi karena bayi kecil).
  3. Mungkin ada plasenta previa.
  4. Pada kembar monoamniotik, dapat terjadi saling melilit / kusut pada tali pusat janin (dapat terlilit / terkait dengan ekstremitasnya sendiri atau saudaranya, atau dengan tali pusat saudaranya).
  5. Pendarahan sesudah melahirkan. Pendarahan dapat terjadi dalam 24 jam pertama atau sekunder sesudah itu. Normalnya tidak lebih dari 500 cc. Penyebabnya antara lain terlepasnya sebagian plasenta dari rahim, perlukaan jalan rahim, atonia uteri (tak adanya kontraksi rahim), dan kelainan proses pembekuan darah.

Kembar menyebabkan rahim sangat meregang dan rahim yang meregang cenderung mengalami kontraksi sebelum kehamilan mencapai usia yang matang. Akibatnya bayi kembar sering dilahirkan secara prematur dan memiliki berat badan yang rendah, kurang dari 2500gr. Karena berukuran kecil, mereka mempunyai risiko mudah terserang sakit sesudah lahir dan perkembangannya pun lebih lambat dari pada bayi tunggal. Untuk menentukan bagaimana pertumbuhan janin, dapat diketahui dari perubahan berat badan ibu selama awal, pertengahan dan akhir kehamilan. Perhitungan pertambahan berat badan sebagai berikut:
  • Bayi kembar yang ibunya mempunyai berat badan rendah akan bertambah 2,5 kg pada minggu ke-20; 6,5 kg pada minggu ke-28; dan 12,5 kg pada minggu ke-36.
  • Bayi kembar yang ibunya mempunyai berat badan sedang naik 7,5 kg pada minggu ke-20, bertambah 5 kg pada minggu ke-28; dan bertambah menjadi 19 kg pada minggu ke-36.
  • Kenaikan berat badan Ibu selama dua trimester pertama mempunyai dampak besar yang menentukan berat badan waktu lahir.
Terapi nutrisi juga harus diterapkan bagi semua wanita yang hamil kembar. Hal tersebut berlaku untuk semua wanita dengan segala berat badan untuk membantu memastikan pertumbuhan janin optimal dan berat badan lahir lebih tinggi.

Asuhan Persalinan Normal Kala II Aman

A.    Pengertian Persalinan Kala II
Persalinan kala II merupakan salah satu dari serangkaian tahap persalinan, di mana pada tahap ini dimulai saat pembukaan serviks lengkap dan berakhir dengan lahirnya seluruh tubuh janin.
Lamanya kala dua adalah 50 menit untuk primigravida dan 30 menit untuk multigravida.




B.    Tanda-tanda Persalinan Kala II
1.    Ibu merasa ingin meneran (dorongan meneran/doran)
2.    Perineum menonjol (perjol)
3.    Vulva vagina membuka (vulka)
4.    Adanya tekanan pada spincter anus (teknus)
5.    Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat
6.    Meningkatnya pengeluaran darah dan lendir
7.    Kepala telah turun didasar panggul
8.    Ibu merasa ingin buang air besar
Diagnosis pasti :
1.    Pembukaan serviks telah lengkap
2.    Tampak bagian kepala janin melalui introitus vagina

C.    Asuhan Sayang Ibu Kala II
Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan ibu.
Berikut Asuhan Sayang Ibu pada kala II :
1.    Pendampingan keluarga
Selama proses persalinan berlangsung, ibu membutuhkan teman dari keluarga. Biasa dilakukan oleh suami, orang tua, atau kerabat yang disukai oleh ibu. Dukungan dari keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan sangat membantu mewujudkan persalinan yang lancar.

2.    Libatkan keluarga
Keterlibatan keluarga dalam asuhan antara lain membantu ibu berganti posisi, teman bicara, melakukan rangsangan taktil, memberikan makanan da minuman, membantu dalam mengatasi nyeridengan memijat bagian lumbal/pinggang belakang. Bila persalinan dilakukan dirumah, keluarga dapat membantu menyiapkan tempat dan peralatan yang digunakan dalam persalinan.

3.    KIE proses persalinan
Memberikan pengertian tentang tahapan dan kemajuan proses persalinan atau kelahiran janin pada ibu dan keluarga agar ibu tidak cemas menghadapi persalinan. Mengurangi rasa cemas dengan cara memberi penjelasan tentang prosedur dan maksud dari setiap tindakan yang akan dilakukan, memberi kesempatan ibu dan keluarga untuk bertanya tentang hal yang belum jelas, menjelaskan setiap pertanyaan yang diajukan bila perlu dengan alat peraga, memberi informasi apa yang dialami oleh ibu dan janinnya dalam hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.

4.    Dukungan psikologi.
Dukungan psikologi dapat diberikan dengan bimbingan dan menanyakan apakah ibu perlu pertolongan. Meningkatkan perasaan aman dengan memberikan dukungan dan memupuk rasa kepercayaan dan keyakinan pada diri ibu bahwa ia mampu untuk melahirkan. Berikan kenyamanan, berusaha menenangkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani proses persalinan. Memberikan perhatian agar dapat menurunkan rasa tegang sehingga dapat membantu kelancaran proses persalinan.

5.    Membantu ibu memilih posisi.
Posisi pada saat meneran tergantung pada keinginan ibu dalam memilih posisi yang paling nyaman dirasakan ibu.
Adapun posisi-posisi meneran, yaitu:
Duduk atau setengah duduk
Dengan posisi ini penolong persalinan lebih leluasa dalam membantu kelahiran kepala janin serta lebih leluasa untuk dapat memperhatikan perineum.

Merangkak
Posisi merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan rasa sakit pada punggung, mempermudah janin dalam melakukan rotasi serta peregangan pada perineum berkurang.

Jongkok atau berdiri
Posisi jongkok atau berdiri memudahkan penurunan kepala janin, memperluas panggul sebesar 28% lebih besar pada pintu bawah panggul, memperkuat dorongan meneran. Namun posisi ini berisiko terjadinya laserasi (perlukaan jalan lahir).

Berbaring miring ke kiri
Posisi berbaring miring ke kiri dapat mengurangi penekanan pada vena cava inferior sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia, karena suplay oksigen tidak terganggu, dapat member suasana relaksasi bagi ibu yang mengalami kecapekandan dapat pencegahan terjadinya laserasi/robekan jalan lahir.

Hindari posisi terlentang
Pada posisi terlentang dapat menyebabkan:
  1. Hipotensi dapat berisiko terjadinya syok dan berkurangnya suplay oksigen dalam sirkulasi uteroplacenta sehingga dapat menyebabkan hipoksia pada janin.
  2. Rasa nyeri yang bertambah.
  3. Kemajuan persalinan bertambah lama.
  4. Ibu mengalami gangguan untuk bernafas.
  5. Buang air kecil terganggu.
  6. Mobilisasi ibu kurang bebas.
  7. Ibu kurang semangat.
  8. Resiko laserasi jalan lahir bertambah.
  9. Dapat mengakibatkan kerusakan pada syaraf kaki dan punggung.

6.    Bimbingan cara meneran (mengejan)
Penolong persalinan menganjurkan ibu untuk meneran bila ada dorongan yang kuat dan spontan untuk meneran. Membimbing pernafasan yang adekuat, penolong tidak diperkenankan meminta ibu untuk meneran secara terus-menerus tanpa mengambil  nafas saat meneran atau tidak boleh meneran sambil menahan nafas. Penolong sebaiknya menyarankan ibu untuk beistirahat dalam waktu relaksasi kontraksi. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi agar ibu tidak kelelahan dan menghindari resiko asfiksia karena suplay oksigen melalui plasenta berkurang.

7.    Pemberian nutrisi
Ibu bersalin perlu diperhatikan pemenuhan kebutuhan cairan, elektrolit dan nutrisi. Hal ini untuk mengantisipasi ibu mengalami dehidrasi. Dehidrasi pada ibu bersalin dapat berpengaruh terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang penting artinya dalam menimbulkan kontraksi uterus.

8.    Menjalankan prinsip pencegahan infeksi.

9.    Mengusahakan kandung kencing kosong
Dengan cara membantu dan memacu ibu mengosongkan kandung kencing secara teratur.

Pemantauan terhadap kesejahteraan ibu :
  1. Mengevaluasi his (kontraksi uterus) berapa kali terjadi dalam 10 menit (frekuensi his), lamanya his dan kekuatan his serta kaitan antara ketiga hal tersebut dengan kemajuan persalinan.
  2. Mengkaji keadaan kandung kencing dengan menganamnese ibu dan melakukan palpasi kandung kencing untuk memastikan kandung kencing kosong.
  3. Mengevaluasi upaya meneran ibu efektif atau tidak.
  4. Pengeluaran pervaginam serta penilaian serviks meliputi effasment (pendataran serviks) dan dilatasi serviks (pembukaan).

Observasi terhadap kesejahteraan janin.
  1. Penurunan kepala, presentasi dan sikap.
  2. Mengkaji kepala janin adakah caput atau moulage.
  3. Denyut jantung janin (DJJ) meliputi frekuensi, ritmenya dan kekuatannya.
  4. Air ketuban meliputi warna, baud an volume.
Saat bayi lahir
Nilai kondisi bayi (0-30 detik) dengan menjawab 2 pertanyaan, apakah bayi menangis kuat dan atau tanpa kesulitan? Apakah bayi bergerak aktif atau lemas?

Kondisi yang harus diatasi sebelum penatalaksanaan kala II
  1. Syok
  2. Dehidrasi
  3. Infeksi
  4. Preeklampsia/eklampsia
  5. Inersia uteri
  6. Gawat janin
  7. Penurunan kepala terhenti
  8. Adanya gejala dan tanda distosia bahu
  9. Pewarnaan mekonium pada cairan ketuban
  10. Kehamilan ganda/kembar
  11. Tali pusat menumbung/lilitan tali pusat


D.  Standar Pelayanan Kebidanan
Standar Pelayanan Kebidanan yang berisi mengenai persalinan Kala II yang aman, terdapat pada standar 10.
Hal yang perlu diperhatikan dalam persalinan Kala II yang aman yaitu 3 Bersih:
  1. Tangan Bersih,
  2. Tempat pertolongan persalinan bersih,
  3. Pengikatan dan pemotongan tali pusat dilakukan secara bersih.

Lagu APN

TANDA GEJALA KALA II
Do-ran, tek-nus, per-jol, vul-ka
SIAPKAN ALAT SIAPKAN DIRI
Celemek, cuci, sarung, oksi
PASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP
Bersih, PD, celup, DJJ
SIAP IBU DAN KELUARGA
Beritahu ibu bapak

PIMPINAN IBU NTUK MENERAN
2,3,1 langkah
SIAP SIAP UNTUK MENOLONG
Handuk, bokong, buka sarung
TOLONG KEPALA, BAHU, BADAN
3,1,2, langkah
PENANGANAN BAYI BARU LAHIR
2,3,2,2 langkah

MANAJEMEN AFTIP KALA III
Ini materi utama
PTT, PLASENTA, MASSAGE
3,2,1,
PERDARAHAN SEGERA PERIKSA
Plasenta dan robekan
PASCA TINDAKAN TUJUH BELAS
Empat, eval, bersih, aman, parto


Penggunaan Kondom Kateter Pada Penanganan Perdarahan Postpartum

Perdarahan pasca persalinan (Postpartum Hemorrhage = PPH) sampai saat ini masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal baik di Negara maju maupun di Negara berkembang.

Kelahiran bayi adalah suatu proses normal, tetapi adakalanya ditemui kejadian morbiditas dan mortalitas maternal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi pada kala ketiga persalinan. Kematian maternal adalah suatu tragedi dan merupakan kerugian besar bagi masyarakat dan suatu bangsa. Sekitar setengah juta wanita mati tiap tahun akibat proses kelahiran bayi dan kehamilan. Sekitar seperempat di antara mereka mengalami komplikasi yang terjadi pada kala ketiga persalinan. Di Inggris risiko kematian maternal akibat postpartum hemorrhage adalah satu per 100.000 kelahiran, sedangkan di negara berkembang adalah satu per 1000 kelahiran. Di Malaysia dari tahun 1995-1996 menunjukkan bahwa postpartum hemorrhage sebagai penyebab utama dari kematian maternal. Kala ketiga persalinan digambarkan sebagai suatu proses berlanjut yang mulai dengan lahirnya janin dan berakhir dengan lahirnya plasenta. Umumnya sekitar 5 sampai 10 beberapa menit, tetapi tidak sampai melebihi dari 30 menit.


Angka kematian maternal ( Maternal Mortality Rate = MMR ) di Amerika Serikat pada tahun 1995 sebanyak 7,1/100.000 kelahiran hidup. Penyebab terbanyak dari MMR tersebut adalah perdarahan, emboli, hipertensi dalam kehamilan, kardiomiopati serta karena komplikasi anastesi. Sedang di Amerika Tengah, yaitu di Meksiko dan sekitarnya, MMR terrendah adalah di Kostarika sebanyak 29/100.000 dan tertinggi di Guatemala yaitu 190/100.000. Penyebab kematian terbanyak juga adalah perdarahan. Sedang di Asia Tenggara Negara kita masih menduduki angka tertinggi yaitu sebanyak 307/100.000 ( SDKI tahun 1998-2002 ), penyebab kematian tertinggi juga sama, yaitu perdarahan ( 28% ) disusul Preeklamsia-eklamsia dan infeksi masing-masing sebanyak 13% dan 10%. Secara keseluruhan di seluruh dunia ini kematian maternal sebanyak 600.000 pertahun dan yang disebabkan oleh PPH sebanyak 125.000 wanita pertahun.

Penanganan ada dua bagian, yaitu suportif dengan perbaikan keadaan umum, penambahan cairan, darah serta komponen-komponennya. Yang kedua adalah penanganan kausatif, yaitu melakukan identifikasi penyebab perdarahan dan usaha untuk menghentikannya. Ada beberapa cara untuk menghentikan perdarahan yaitu, pertama: pemberian uterotonika dengan oksitosin, metil ergometrin atau prostaglandin. Kedua: hemostasis secara mekanis dengan manual atau digital plasenta, kuret sisa plasenta, kompresi manual ataupun packing. Ketiga: dengan cara pembedahan, yaitu penjahitan laserasi, ligasi pembuluh darah ataupun dilakukan histerektomi.

Patofisiologi Pph
Perdarahan postpartum / Postpartum Hemorrhage ( PPH ) terjadi karena adanya perdarahan yang banyak yang pada umumnya berasal dari tempat implantasi plasenta atau adanya laserasi jalan lahir. Penyebab PPH terbanyak adalah atonia uteri, kelainan imlantasi plasenta dan laserasi jalan lahir. Pada PPH yang penting adalah menentukan etiologinya dan memberikan penanganan yang sesuai. Walaupun pengetahuan tentang penyebab perdarahan pasca persalinan telah banyak diketahui dan darah sudah banyak tersedia tetapi kematian yang disebabkan oleh PPH ini masih menduduki tempat yang tinggi baik di Negara maju maupun di Negara-negara berkembang.

PPH dapat terjadi langsung yang disebut PPH primer / dini dan dapat pula terjadi setelah 24 jam kemudian yang disebut PPH sekunder / lambat. Definisi PPH tergantung dari jenis persalinan yang terjadi. Pada persalinan pervaginam, PPH didefinisikan sebagai terjadinya perdarahan > 500 cc, sedangkan pada seksio sesarea sebanyak > 1000 cc. PPH seringkali tidak dilaporkan, karena penilaian jumlah perdarahan cenderung under-estimated, terutama bila keadaan ibu pasca salin dalam keadaan baik. Karena sukar untuk menilai berapa banyak insidens PPH yang sebenarnya, American College of Obstetricians and Gynecologist yaitu menetapkan kriteria penurunan > 10% dari kadar hematokrit sebelum dan sesudah persalinan. secara garis besar PPH mengenai 4 – 6% dari seluruh persalinan.

Dengan adanya peningkatan jumlah volume plasma dan sel darah merah yang meningkat pada wanita hamil ( 30 – 50% ) serta adanya peningkatan cardiac output, maka dibandingkan wanita tidak hamil, wanita hamil lebih mudah berkompensasi terhadap adanya perdarahan dengan cara meningkatkan tahanan vaskuler perifer sehingga tekanan darah tidak menurun dan dapat menjamin kelancaran perfusi organ. Baru setelah kemampuan peningkatan vaskuler terlampaui maka terjadilah penurunan tekanan darah, cardiac output dan perfusi organ sehingga menimbulkan gejala klinis dari PPH.

Mekanisme penghentian perdarahan pasca persalinan berbeda dengan tempat lain dimana faktor vasospasme dan pembekuan darah sangat penting, pada perdarahan pasca persalinan penghentian perdarahan pada bekas implantasi plasenta terutama karena adanya kontraksi dan retraksi miometrium sehingga menyempitkan dan membuntu lumen pembuluh darah. Adanya sisa plasenta atau bekuan darah dalam jumlah yang banyak dapat mengganggu efektivitas kontraksi dan retraksi miometrium sehingga dapat menyebabkan perdarahan tidak berhenti. Kontraksi dan retraksi miometrium yang kurang baik dapat mengakibatkan perdarahan walaupun sistem pembekuan darahnya normal, sebaliknya walaupun sistem pembekuan darah abnormal asalkan kontraksi dan retraksi miometrium baik akan menghentikan perdarahan.

Faktor Predisposisi
Perdarahan Dari Tempat Implantasi Plasenta
Kontraksi hipotonik = atonia uteri
• Obat-obat anastesi
• Uterus overdistensi – janin besar, hamil multiple, hidramnion
• Persalinan lama
• Persalinan terlalu cepat
• Setelah induksi / akselerasi persalinan
• Multi-Paritas
• Riwayat HPP

Tertinggalnya Jaringan Plasenta
• Adanya sisa kotiledon atau adanya lobus suksenturiata
• Kelainan implantasi – akreta, inkreta, perkreta

Perdarahan Jalan Lahir
• Episiotomi yang lebar atau meluas (ekstensi)
• Laserasi perineum, vagina, atau serviks
• Ruptura uteri

Gangguan Koagulasi
Atonia uteri merupakan penyebab PPH yang terbanyak. Walau tanpa ada faktor predisposisi, atonia uteri dapat terjadi pula pada setiap persalinan, sehingga perlu selalu dilakukan observasi dan monitor kontraksi uterus pasca persalinan. Diagnosis atonia uteri dapat dibedakan secara cepat dari laserasi jalan lahir berdasarkan kontraksi uterusnya, bila kontraksi baik perdarahan banyak maka kemungkinan besar ada laserasi jalan lahir, sedang bila kontraksi kurang baik maka atonia uteri. Atonia uteri dapat pula bersamaan laserasi jalan yang merupakan penyebabnya, sehingga pemeriksaan jalan lahir, yaitu vagina, serviks dan uterus harus dikerjakan pada setiap PPH.


Penanganan Pph
Tujuan utama penanganan PPH adalah
(1) mengembalikan volume darah dan mempertahankan oksigenasi
(2) menghentikan perdarahan dengan menangani penyebab PPH. Idealnya stabilisasi dilakukan lebih dulu sebelum tindakan definitif dikerjakan, tetapi hal ini kadang-kadang tidak mungkin dikerjakan sendiri-sendiri melainkan seringkali dikerjakan perbaikan keadaan umum (resusitasi) sambil dilakukan tindakan untuk menghentikan perdarahan tersebut.
Pada saat awal resusitasi cairan juga diambil sample darahnya untuk diperiksakan laboratorium sederhana dahulu, yaitu paling tidak kadar Hemoglobin, Hematokrit, Lekosit, Trombosit, Faal Pembeku Darah atau dikerjakan pemeriksaan Waktu Pembekuan Darah dan Waktu Perdarahan secara langsung.

Oleh karena penyebab PPH terbanyak adalah karena atonia uteri, maka langkah pertama dari penanganannya adalah dengan pemijatan uterus, kompresi bimanual, tampon utero-vaginal, sementara obat uterotonika tetap diberikan. Bila penanganan dengan non operatif ini tidak berhasil baru dilakukan penanganan secara operatif secara laparotomi pemakaian metode B-Lynch, pengikatan Arteri Uterina, Ovarika atau Hipogastrika (Iliaka Interna). Bila dengan cara ini juga belum berhasil menghentikan perdarahan, dilakukan Histerektomi.

Pemberian tampon (packing) uterovagina dengan kassa gulung dapat merugikan karena memerlukan waktu untuk pemasangannya, dapat menyebabkan perdarahan yang tersembunyi atau bila ada perembesan berarti banyak darah yang sudah terserab di tampon tersebut sebelumnya dan dapat menyebabkan infeksi. Tetapi dapat pula menguntungkan bila dengan tampon tersebut perdarahan bisa berhenti sehingga tidak diperlukan tindakan operatif atau tampon digunakan untuk menurunkan perdarahan sementara sambil menunggu penanganan operatif. Alternatif dari pemberian tampon selain dengan kassa, juga dipakai beberapa cara yaitu : dengan menggunakan Sengstaken-Blakemore tube, Rusch urologic hydrostatic balloon catheter (Folley catheter) atau SOS Bakri tamponade balloon catheter.

Pada tahun 2003 Sayeba Akhter dkk mengajukan alternatif baru dengan pemasangan kondom yang diikatkan pada kateter. Dari penelitiannya disebutkan angka keberhasilannya 100% (23 berhasil dari 23 PPH), kondom dilepas 24 – 48 jam kemudian dan tidak didapatkan komplikasi yang berat. Indikasi pemasangan kondom sebagai tampon tersebut adalah untuk PPH dengan penyebab Atonia Uteri. Cara ini kemudian disebut dengan Metode Sayeba. Metode ini digunakan sebagai alternatif penanganan HPP terutama sambil menunggu perbaikan keadaan umum, atau rujukan.

Cara pemasangan tampon kondom menurut Metode Sayeba adalah secara aseptik kondom yang telah diikatkan pada kateter dimasukkan kedalam cavum uteri. Kondom diisi dengan cairan garam fisiologis sebanyak 250-500 cc sesuai kebutuhan. Dilakukan observasi perdarahan dan pengisian kondom dihentikan ketika perdarahan sudah berkurang. Untuk menjaga kondom agar tetap di cavum uteri, dipasang tampon kasa gulung di vagina. Bila perdarahan berlanjut tampon kassa akan basah dan darah keluar dari introitus vagina. Kontraktilitas uterus dijaga dengan pemberian drip oksitosin paling tidak sampai dengan 6 jam kemudian. Diberikan antibiotika tripel, Amoksisilin, Metronidazol dan Gentamisin. Kondom kateter dilepas 24 – 48 jam kemudian, pada kasus dengan perdarahan berat kondom dapat dipertahankan lebih lama.

Perubahan Fisiologis Kala I Persalinan

Perubahan pada uterus dan jalan lahir dalam persalinan :
1. Keadaan segmen atas dan bawah rahim pada persalinan :
a. Hamil lanjut
uterus terdiri atas dua bagian yaitu segmen atas rahim yang dibentuk oleh corpus uteri dan segmen bawah rahim yang dibentuk oleh istmus uteri.
               
b. Kontraksi otot rahim mempunyai sifat yang khas :
(1) Setelah kontraksi maka otot tersebut tidak berelaksasi kembali ke keadaan sebelum kontraksi tapi menjadi sedikit lebih pendek walaupun tonusnya seperti sebelum kontraksi (Retraksi)

(2) Kontraksi tidak sama kuatnya, tapi paling kuat di daerah fundus uteri dan berangsur-angsur berkurang ke bawah dan paling lemah pada segmen bawah rahim (SBR)
(3) Sebagian dari isi rahim keluar dari segmen atas dan diterima oleh segmen bawah
(4) Jadi segmen atas makin lama makin mengecil sedangkan segmen bawah makin diregang dan makin tipis dan isi rahim sedikit demi sedikit pindah ke segmen bawah
(5) Karena segmen atas makin tebal dan segmen bawah makin tipis maka batas antara segmen atas dan bawah menjadi jelas  lingkaran retraksi yang fisiologis
(6) Kalau segmen bawah sangat diregang maka lingkaran retraksi lebih jelas dan naik mendekat pusat----lingkaran retraksi yang patologis / lingkaran bandle

2. Perubahan bentuk rahim
a. Pada tiap kontraksi sumbu panjang rahim bertambah panjang sedangkan ukuran melintang maupun muka belakang berkurang.
b. Hal di atas dapat terjadi karena ukuran melintang berkurang, artinya tulang punggung menjadi lebih lurus dan dengan demikian kutup atas anak tertekan pada fundus sedangkan kutub bawah ditekan ke dalam PAP.

3. Perubahan pada serviks
a. Agar bayi dapat keluar dari rahim maka perlu terjadi pembukaan dari serviks.
b. Pembukaan dari serviks ini biasanya didahului oleh pendataran dari serviks ini biasnya didahului oleh pendataran dari serviks.
c. Pendataran serviks adalah : pendekatan dari kanalis servikalis berupa sebuah saluran yang panjangnya 1-2 cm, menjadi satu lubang saja dengan pinggir yang tipis.
d. Pembukaan dari serviks adalah pembesaran dari OUE yang tadinya berupa suatu lubang dengan diameter beberapa millimeter menjadi lubang yang dapt dilaui anak kira-kira 10 cm diameternya.

4. Perubahan vagina dan dasar panggul
a. Dalam kala I ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina yang sejak kehamilan mengalami perubahan sedemikian rupa, sehingga dapat dilalui oleh anak.
b. Setelah ketuban pecah, segala perubahan terutama pada dasar panggul diregang menjadi saluran dengan dinding yang tipis.
c. Waktu kepala sampai di vulva, lubang vulva mengahadap ke depan atas. Dari luar peregangan oleh bagian depan nampak pada perineum yang menonjol dan menjadi tipis sedangkan anus menjadi terbuka.

5. Tekanan Darah
a. TD meningkat selama_kontraksi (sistolik rata-rata naik 15 (10-20) mmHg. 5-10 mmHg). Antara kontraksi, TD kembali normal pada level sebelum persalinan.
b. Rasa sakit, takut, dan cemas juga akan meningkatkan TD
c. Ada beberapa faktor yang mengubah tekanan darah ibu. Aliran darah yang menurun pada arteri uterus akibat kontraksi, diarahkan kembali ke pembuluh darah perifer. Timbul tahanan perifer, tekanan darah meningkat dan frekuensi denyut nadi melambat. Pada tahap pertama persalinan kontraksi uterus meningkatkan tekanan sistolik dengan rata-rata 15 ( 10-20) mmHg dan kenaikan diastolik dengan rata-rata 5-10 mmHg. Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan darah di anatara kontraksi memberi data yang lebih akurat. Akan tetapi, baik tekanan sistolik maupun diastolik akan tetap sedikit meningkat diantara kontraksi. Wanita yang memang memiliki resiko hipertensi kini resikonya meningkat untuk mengalami komplikasi, seperti perdarahan otak.

6. Metabolisme
Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob meningkat secara berangsur. Ditandai dengan peningkatan suhu, Nadi, kardiak output, pernafasan dan cairan yang hilang. Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob akan meningkat secara berangsur disebabkan karena kecemasan, dan aktivitas otot skeletal. Peningkatan ini ditandai dengan adanya peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, kardiak output, pernafasan dan cairan yang hilang.

7. Suhu Tubuh
a. Meningkat selama persalinan terutama selama dan segera setelah persalinan. Peningkatan ini jangan melebihi 0,5 °C-1 °C
b. Karena terjadi peningkatan metabolisme, maka suhu tubuh agak sedikit meningkat selama persalinan terutama selama dan segera setelah persalinan. Peningkatan ini jangan melebihi 0,5 °C-1 °C.

8. Detak Jantung
a. Detak jantung secara dramatis.naik selama kontraksi
b. Antara kontraksi sedikit mcningkat dibandingkan sebelum persalinan
Pada setiap kontraksi, 400 ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk ke dalam sistem vaskuler ibu. Hal ini akan meningkatkan curah jantung sekitar 10% sampai 15% pada tahap pertama persalinan dan sekitar 30% sampai 50% pada tahap kedua persalinan.
Ibu harus diberitahu bahwa ia tidak boleh melakukan manuver valsava (menahan napas dan menegakkan otot abdomen) untuk mendorong selama tahap kedua. Aktivitas ini meningkatkan tekanan entratoraks, mengurangi aliran balik vena dan meningkatkan tekanan vena. Curah jantung dan tekanan darah meningkat, sedangkan nadi melambat untuk sementara. Selama ibu melakukan manuver valsava, janin dapat mengalami hipoksia. Proses ini pulih kembali saat wanita menarik napas.

9. Pernafasan
a. Terjadi sedikit peningkatan laju pernafasan dianggap normal
b. Hiperventilasi yang lama dianggap tidak normal dan bisa menyebabkan alkologis
Sistem pernafasan juga beradaptasi. Peningkatan aktivitas fisik dan peningkatan pemakaian oksigen terlihat dari peningkatan frekuensi pernafasan. Hiperventilasi dapat menyebabkan alkalosis respiratorik (pH meningkat), hipoksia dan hipokapnea (karbondioksida menurun), Pada tahap kedua persalinan. Jika ibu tidak diberi obat-obatan, maka ia akan mengkonsumsi oksigen hampir dua kali lipat. Kecemasan juga meningkatkan pemakaian oksigen.

10. Perubahan pada Ginjal
a. Poliuria
b. Peningkatan filtrasi glomelurus dan peningkatan aliras plasma ginjal
c. Proteinuria yang sedikit dianggap biasa
d. Pada trimester ke dua, kandung kemih menjadi organ abdomen. Apabila terisi, kandung kemih dapat teraba di atas simpisis pubis. Selama persalinan wanita dapat mengalami kesulitan untuk berkemih secara spontan akibat berbagai alasan : edema jaringan akibat tekanan bagian presentasi, rasa tidak nyaman, sedasi dan rasa malu. Proteinuria +1 dapat dikatakan normal dan hasil ini merupakan respons rusaknya jaringan otot akibat kerja fisik selama persalinan.
Poliuria sering terjadi selama persalinan, mungkin disebabkan oleh peningkatan kardiak output, peningkatan filtrasi dalam glomerulus, dan peningkatan aliran plasma ginjal. Proteinuria yang sedikit dianggap normal dalam persalinan.

11. Perubahan Gastrointestinal
a. Motilitas lambung dan absorpsi makanan padat berkurang
b. Pengurangan getah lambung berkurang
c. Pengosongan lambung menjadi sangat lambat
d. Mual muntah biasa terjadi sampai ibu mencapai akhir kala I
Persalinan mempengaruhi sistem saluran cerna wanita. Bibir dan mulut dapat menjadi kering akibat wanita bernafas melalui mulut, dehidrasi dan sebagai respons emosi terhadap persalinan. Selama persalinan, motilitas dan absorbsi saluran cerna menurun dan waktu pengosongan lambung menjadi lambat. Wanita sering kali merasa mual dan memuntahkan makanan yang Belum dicerna sebelum bersalin. Mual dan sendawa juga terjadi sebagai respons refleks terhadap dilatasi serviks lengkap. Ibu dapat mengalami diare pada awal persalinan. Bidan dapat meraba tinja yang keras atau tertahan pada rektum.

Motilitas lambung dan absorbsi makanan padat secara substansial berkurang banyak sekali selama persalinan. Selain itu, pengeluaran getah lambung berkurang menyebabkan aktivitas pencernaan hampir berhenti, dan pengosongan lambung menjadi sangat lamban. Cairan tidak berpengaruh dan meninggalkan perut tempo yang biasa. Mual atau muntah biasa terjadi sampai mencapai akhir kala I.

12. Perubahan Hematologi
Hemoglobin meningkat sampai 1,2 gr/100 ml, selama persalinan dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan sehari setelah pasca salin kecuali ada perdarahan postpartum.

Nyeri dalam Persalinan

Nyeri adalah rasa tidak enak akibat perangsangan ujung-ujung saraf khusus. Rasa sakit dalam persalinan dialami oleh seorang wanita dalam persalinan adalah disebabkan oleh kontraksi uterus, pembukaan serviks dan pada akhir kala I oleh peregangan vagina dan dasar panggul karena janin sudah berada di dasar panggul.

Rangsangan-rangsangan yang menyakitkan ini dikirimkan oleh syaraf-syaraf thoracic, lumbal dan sakral. Ujung-ujung syaraf uterus meneruskannya ke kedua syaraf thoracic yang berakhir T 11 dan T 12, melalui paraservical pexus. Syaraf-syaraf ini mengirimkan rasa sakit yang disebabkan oleh pembukaan leher rahim. Pada akhir kala I T 10 dan syaraf lumbal yang pertama, L 1 juga terlibat. Syaraf pudendal merelay impuls rasa sakit tersebut dari dasar pangul yang meregang menuju syaraf sacral S2, S3 dan S4.


Pengurangan Rasa Nyeri Dalam Persalinan
Kebutuhan seorang wanita dalam proses persalinan adalah:
1. Pemenuhan kebutuhan fisisk
2. Kehadiran seorang pendamping secara terus-menerus
3. Keringanan dari rasa sakit
4. Penerimaan atas sikap dan perilakunya
5. Pemberian informasi tentang kemauan proses persalinan dan hasil persalinannya.

Persepsi Rasa Nyeri
Cara yang dirasakan oleh individu dan reaksi terhadap rasa sakit dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

1. Rasa takut atau kecemasan
Rasa takut atau kecemasan akan meninggikan respon individual terhadap rasa sakit. Rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui, rasa takut ditinggal sendiri pada saat proses persalinan (tanpa pendamping) dan rasa takut atas kegagalan persalinan dapat meningkatkan kecemasan. Pengalaman buruk persalinan yang lalu juga akan menambah kecemasan.

2. Kepribadian
Kepribadian ibu berperan penting terhadap rasa sakit, ibu yang secara alamiah tegang dan cemas akan lebih lemah dalam menghadapi stres dibanding wanita yang rileks dan percaya diri.

3. Kelelahan
Ibu yang sudah lelah selama beberapa jam persalinan, mungkin sebelumnya sudah terganggu tidurnya oleh ketidaknyamanan dari akhir masa kehamilannya akan kurang mampu mentolerir rasa sakit.

4. Faktor sosial dan budaya
Faktor sosial dan budaya juga berperan penting dalam reaksi rasa sakit. Beberapa budaya mengharapkan stooicisme (sabar dan membiarkannya) sedang budaya lainnya mendorong keterbukaan untuk menyatakan perasaan.

5. Pengharapan
Pengharapan akan memberi warna pada pengalaman. Wanita yang realistis dalam pengharapannya mengenai persalinannya dan tanggapannya terhadap hal tersebut mungkin adalah persiapan yang terbaik sepanjang ia merasa percaya diri bahwa ia akan menerima pertolongan dan dukungan yang diperlukannya dan yakin bahwa ia akan menerima analgesik yang sesuai.

Metoda Pengurangan Rasa Nyeri

1. Metode Alami
Prinsipnya pengurangan rasa nyeri dengan metode alami, yaitu mengurangi ketegangan ibu sehingga bisa merasa nyaman dan relaks menghadapi persalinan. Metode ini juga bisa meningkatkan stamina untuk mengatasi rasa nyeri dan tidak berdampak pada bayi yang dilahirkan.

Metode pereda nyeri alami bisa digabungkan dengan metode pereda nyeri dengan obat. Bila ingin menggunakannya, ada baiknya mendiskusikan terlebih dulu dengan dokter jauh-jauh hari sebelum menghadapi persalinan.

Metode pengurangan rasa nyeri secara alami terdiri dari :

Metode Panas Dingin
Memang tak menghilangkan keseluruhan nyeri namun setidaknya memberikan rasa nyaman. Botol air panas yang dibungkus handuk dan dicelup ke air dingin mengurangi pegal di punggung dan kram bila ditempel di punggung. Menaruh handuk dingin di wajah juga bisa mengurangi ketegangan.

Gerakan
Teruslah bergerak agar sirkulasi darah meningkat, nyeri punggung berkurang, dan perhatian teralih dari rasa nyeri. Cobalah berbagai posisi persalinan, gunakan bantal untuk menyangga sampai diperoleh posisi paling nyaman.

Pijat
Pijatan pada bahu, leher, wajah, dan punggung bisa meredakan ketegangan otot serta memberi rasa relaks. Sirkulasi darah juga menjadi lancar sehingga nyeri berkurang.

Terapi Aroma
Mengirup aroma minyak esensial bisa mengurangi ketegangan, terutama pada persalinan tahap awal. Dapat juga untuk mengharumkan ruang persalinan karena dapat memberikan efek menenteramkan.

Teknik bernapas yang benar
Disebut juga psikopropilaksis. Metode ini menekankan teknik bernapas yang benar selama kontraksi. Berkonsentrasi pada napas dapat mengalihkan Anda dari nyeri, membuat otot-otot relaks serta ketegangan mengendur.

Dilakukan oleh ahli/ dibantu Terapis
Jika ingin menggunakan salah satu metode berikut, Anda harus meminta bantuan terapis/ahli agar semuanya berjalan baik. Hubungi seorang terapis dan cobalah dulu sebelum persalinan. Pastikan juga ia bisa mendampingi Anda selama proses persalinan.

Akupunktur
Dalam filosofi Cina, rasa sakit dan nyeri terjadi akibat ketidakseimbangan aliran energi dalam tubuh. Keseimbangan itu dikendalikan dengan menusukkan jarum-jarum kecil atau menggunakan tekanan jari tangan ke titik-titik tertentu di tubuh. Banyak wanita hamil yang merasakan manfaatnya untuk mengatasi keluhan selama hamil, seperti mual atau sakit kepala. Metode ini kemudian juga dipakai untuk meringankan nyeri persalinan.

Refleksiologi
Menekan titik di kaki untuk mengurangi nyeri. Pijatan lembut di kaki juga membuat nyaman.

Hypnobirthing
Hipnotis saat menghadapi persalinan memberi sugesti lewat relaksasi pikiran. Dengan dibimbing terapis hipnotis, Anda bisa mengontrol pikiran, rasa nyeri pun akan hilang. Banyaklah berlatih dengan terapis sebelum Anda memilih metode ini. Bagi yang sudah menguasai metodenya, hipnotis diri sendiri/self hypnosis bisa dilakukan dengan menggunakan indra penglihatan. Caranya, setelah mata terpejam sejenak, buka mata perlahan-lahan sambil memandang satu titik tepat di atas mata, makin lama kelopak mata makin relaks, berkedip, dan pada hitungan ke-5, mata akan menutup. Pada saat ketiga unsur jiwa (perasaan, kemauan, pikiran) dan raga beristirahat, masukkan pikiran positif yang akan terekam dalam alam bawah sadar.

2. Penggunaan Obat
Rasa sakit juga dapat dihilangkan dengan menggunakan beberapa metode atau pemberian obat-obatan penghilang rasa sakit, misalnya pethidine, anestesi epidural, entonox, TENS atau ILA (Intrathecal Labour Analgesia). Namun, belum semua metode dan obat ada di Indonesia.

Pethidine
Pemberian pethidine akan membuat tenang, rileks, malas bergerak dan terasa agak mengantuk, tetapi tetap sadar. Obat ini bereaksi 20 menit, kemudian akan bekerja selama 2 - 3 jam dan biasanya diberikan pada kala I. Obat biasanya disuntikkan di bagian paha atau pantat. Penggunanaan obat ini juga menyebabkan bayi mengantuk, tetapi pengaruhnya akan hilang setelah bayi lahir. Pethidine tidak diberikan secara rutin, tetapi diberikan pada keadaan kontraksi rahim yang terlalu kuat.

Anestesi epidural
Metode ini paling sering dilakukan karena memungkinkan ibu untuk tidak merasakan sakit tanpa tidur. Obat anestesi disuntikkan pada rongga kosong tipis (epidural) diantara tulang punggung bagian bawah. Spesialis anestesi akan memasang kateter untuk mengalirkan obat yang mengakibatkan saraf tubuh bagian bawah mati rasa selama sekitar 2 jam, sehingga rasa sakit tidak terasa. Pemberian obat ini harus diperhitungkan agar tidak ada pengaruhnya pada kala II persalinan, jika tidak maka ibu akan mengedan lebih lama.

Entonox
Metode ini menggunakan campuran oksigen dan nitrous oxida, dapat menghilangkan rasa sakit, efeknya lebih ringan daripada epidural dan dapat digunakan sendiri. Jika kontraksi mulai terasa, pegang masker di muka, lalu tarik nafas dalam-dalam. Rasa sakit akan berkurang dan kepala terasa lebih ringan.

TENS
Metode penghilang rasa sakit menggunakan mesin TENS (transcutaneous Electrical Nerves Stimulation) dipilih jika rasa sakit ingin hilang tanpa menggunakan obat. Mesin ini merupakan suatu sensor elektronik yang membantu tubuh menahan rasa sakit dengan mengirim pulsa arus listrik ke punggung. Beberapa elektroda ditempelkan diatas saraf punggung menuju rahim dan dihubiungkan denagn panel kontrol yang dipegang untuk menambah atau mengurangi arus listrik. Alat ini mudah digunakan dan tidak membahayakan.
Intrathecal Labour Analgesia.

Intrathecal Labour Analgesia (ILA) adalah suatu teknik baru untuk menghilangkan nyeri persalinan yang hampir mirip dengan epidural, tetapi berbeda pada lokasi dan cara pemberian obat anestesinya. Pada ILA, obat anestesi disuntikan intratekal, suatu daerah sedikit di atas epidural dan dosis obat yang diberikan lebih sedikit dibanding epidural. Keuntungan dari teknik ILA dibanding epidural adalah lebih aman karena dosis obat lebih sedikit, lebih mudah dilakukan, dan biayanya realtif lebih murah.

Teknik Relaksasi
Perkembangan lain dari tehnik psychophylaxis adalah tehnik relaksasi. Manfaat relaksasi dalam persalinan sama dengan manfaat relaksasi yang didapat dalam kehidupan sehari – hari.
  • Mencegah otot – otot dari kelelahan, khususnya otot besar pada rahim
  • Menolong ibu mengatasi stress persalinan sehingga lebih menikmati pengalamannya
  • Menolong menghemat energi
  • Membantu ibu berkomunikasi lebih efektif dengan orang – orang disekitarnya
  • Membantu bayi dalam kelahirannya
  • Jika ibu rilex, ibu tidak akan mengalirkan hormon stress ke sistem tubuh bayi

Memang tidak mudah untuk betul – betul rileks dalam persalinan. Namun, dapat dilakukan dengan tehnik dan bantuan sederhana, khususnya dari pendamping persalinan. Mendapat dukungan dalam persalinan merupakan factor penting dalam menciptakan pengalaman persalinanyang positif bagi ibu. Selain itu, menghasilkan hasil yang positif bagi bayi.

Kebanyakan ibu terbebas darui rasa sakit dan rasa tidak nyaman diantara dua kontraksi. Inilah saat yang tepat memeriksa tubuh, khususnya dibagian yang tegang. Pendamping dapat membantu memijat atau jika suami, memeluk dan mencium ibu agar lebih tenang. Tetap focus pada latihan pernapasan, baik saat terjadi kontraksi atau diantara kontraksi juga dapat membantu.

Berikut ini beberapa langkah menuju relaksasi :
1. Memilih lingkungan yang tepat
Langkah pertama menuju relaksasi adalah memilih lingkungan bersalin yang benar – benar nyaman bagi ibu. Hingga kini, belum ada penelitian menyebuitkan tempat bersalin teraman adalah rumah sakit modern dengan pengawasan ahli. Justru bukti – bukti menunjukkan ibu dan bayi lebih sedikit mendapat intervensi dan secara fisik maupun psikologis lebih sehat ketika bersalin di lingkungan yang tidak terlalu canggih. Jadi pilihlah dengan jujur tempat bersalin yang nyaman bagi ibu. Tempat itu dapat di rumah sakit, klinik bersalin, atau di rumah.

2. Memahami tubuh
Setiap kali stress ketika hamil, coba amati tubuh yang bereaksi. Apakah ibu mengerat gigi, sakit perut, leher dan bahu jadi tegang dan sakit, atau merengut. Ini semua tanda, otot – otot dalam keadaan tegang sehingga tubuh sakit dan letih. Tarik nafas dalam – dalam, saat menghembuskan, lemaskan otot sehingga kendur dan lunak, tidak kaku, latih tehnik ini secara teratur. Dengan demikian, otomatis ibu dapat mengidentifikasi ketegangan tubuh dan segera mengistirahatkannya saat bersalin. Ini juga berefek positif bagi tekanan darah.
Dalam persalinan, tarik nafas dalam – dalam ketika kontraksi dimulai. Saat menghembuskan napas, cobalah rilex. Selanjutnya, focus pada kata – kata atau kalimat pengalih perhatian.

3. Komunikasikan dengan jelas
Jika ibu tidak memiliki gambaran yang akan terjadi pada tubuh selama persalinan, tidak mengerti yang akan dilakukan petugas medis, atau percakapan mereka tidak melibatkan ibu, ibu akan sulit rileks. Oleh karena itu, jika ibu tidak yakin mengenai berbagai aspek dalam persalinan atau menyimpan kekhawatiran bahwa sesuatu akan menimpa ibu atau bayi, tanyakan hal itu pada petugas medis. Setelah itu mendengar dari mereka segalanya baik – baik saja, biasanya ibu segera rileks. Pastikan pendamping persalinan mengerti. Perannya yang terpenting adalah senantiasa membuat ibu cukup informasi.