Subscribe:

Tentang Template :

Viagra VS Kondom: Sebuah Catatan Perjuangan HIV

Membicarakan topik kondom di masyarakat, sepertinya sebuah perbincangan yang akan menuai kontrovesi karena dianggap masalah yang sensitif juga hal tabu, terlebih di kalangan agamawan. Memang kondom seringkali dikaitkan dengan masalah moralitas, atau bahkan dianggap sebagai bentuk kampanye seks bebas. Padahal, data membuktikan bahwa kondom selain sebagai salah satu alat kontrasepsi, pun mempunyai implikasi yang sangat besar terhadap kesehatan masyarakat dalam menahan laju prevalensi HIV/AIDS yang kini telah mencapai 33 juta kasus di dunia. Seperti kisah sukses program kondom 100%  di Thailand yang mampu menahan prevalensi HIV dan mengurangi kasus baru.


Meski kondom dan viagra,  keduanya hasil produk teknologi untuk intervensi aktivitas seksual dan juga untuk keperluan kesehatan reproduksi dan seksual. Lalu timbul pertanyaan,”Mengapa Viagra begitu sangat dikenal dan dianggap bernilai di masyarakat jika dibandingkan dengan kondom?”.  Bahkan saking popular, iklan Viagra bisa muncul  sebagai e-mail spam/sampah di inbox e-mail kita.


Topic “Viagra versus Kondom” diangkat menjadi sesi yang menarik pada satellite session ICAAP pada Rabu, 12 Agustus 2009. Acara yang di selenggarakan oleh the Consortium, Institute for Population and Social Research of Mahidol University, ICAAP LOC and Sexuality Policy Watch., dipadati oleh para peserta yang antusias dengan isu yang ditawarkan.


Ibu Positif HIV Bisa Berikan ASI Eksklusif Pada Bayinya

Ibu yang telah didiagnosa positif HIV biasanya tidak mau memberikan ASI pada anaknya karena takut si bayi tertular virus tersebut. Tapi ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya justru bisa mencegah penularan tersebut.


Ibu yang mengidap HIV cenderung tidak ingin memiliki anak dan kalaupun punya anak tidak mau menyusuinya karena tidak ingin si anak tertular penyakitnya. Namun Badan kesehatan dunia (WHO) pada 1 Desember 2009 menyatakan bahwa ibu yang positif HIV bisa menyusui anaknya secara eksklusif.


"Ibu yang positif HIV bisa menyusui anaknya secara eksklusif asalkan si ibu mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) sejak awal kehamilannya," ujar dr Henny Hendiyani Zainal seorang konselor AIMI dalam acara coffee morning Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Restoran Sambara, Jakarta, Senin (21/12/2009).


Jika ibu yang positif HIV, maka sejak awal kehamilannya harus sudah mengonsumsi obat ARV agar virus yang ada dalam tubuh ibu tidak ditularkan pada anaknya. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap ibu yang positif HIV di Afrika Selatan.


Hanya Tiga Persen Kesertaan Pria Ber-KB di Indonesia

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Pusat, Drs Imam Haryadi mengatakan, kesertaan pria indonesia untuk ber-KB sangat rendah hanya sekitar tiga persen.


"Yang tiga persen tersebut menggunakan kondom 0,7 persen, vasektomi 0,4 persen, senggama terputus 0,8 persen dan pantang berkala 1,1 persen," katanya dihadapan peserta Lokakarya KIE bagi anggota DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB) di Mataram, Senin.


Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka kesertaan KB pria di negara Islam, seperti di Pakistan mencapai 5,2 persen, Bangladesh 13,9 persen dan Malaysia sebesar 16,8 persen.


Rendahnya penggunaan kontrasepsi oleh pria tersebut disebabkan oleh terbatasnya macam dan jenis alat kontrasepsi lali-laki. Faktor lain adalah rendahnya pengetahuan dan pemahaman tentang hak-hak dan kesehatan produksi.