Subscribe:

Tentang Template :

Asuhan Persalinan Normal Kala II Aman

A.    Pengertian Persalinan Kala II
Persalinan kala II merupakan salah satu dari serangkaian tahap persalinan, di mana pada tahap ini dimulai saat pembukaan serviks lengkap dan berakhir dengan lahirnya seluruh tubuh janin.
Lamanya kala dua adalah 50 menit untuk primigravida dan 30 menit untuk multigravida.




B.    Tanda-tanda Persalinan Kala II
1.    Ibu merasa ingin meneran (dorongan meneran/doran)
2.    Perineum menonjol (perjol)
3.    Vulva vagina membuka (vulka)
4.    Adanya tekanan pada spincter anus (teknus)
5.    Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat
6.    Meningkatnya pengeluaran darah dan lendir
7.    Kepala telah turun didasar panggul
8.    Ibu merasa ingin buang air besar
Diagnosis pasti :
1.    Pembukaan serviks telah lengkap
2.    Tampak bagian kepala janin melalui introitus vagina

C.    Asuhan Sayang Ibu Kala II
Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan ibu.
Berikut Asuhan Sayang Ibu pada kala II :
1.    Pendampingan keluarga
Selama proses persalinan berlangsung, ibu membutuhkan teman dari keluarga. Biasa dilakukan oleh suami, orang tua, atau kerabat yang disukai oleh ibu. Dukungan dari keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan sangat membantu mewujudkan persalinan yang lancar.

2.    Libatkan keluarga
Keterlibatan keluarga dalam asuhan antara lain membantu ibu berganti posisi, teman bicara, melakukan rangsangan taktil, memberikan makanan da minuman, membantu dalam mengatasi nyeridengan memijat bagian lumbal/pinggang belakang. Bila persalinan dilakukan dirumah, keluarga dapat membantu menyiapkan tempat dan peralatan yang digunakan dalam persalinan.

3.    KIE proses persalinan
Memberikan pengertian tentang tahapan dan kemajuan proses persalinan atau kelahiran janin pada ibu dan keluarga agar ibu tidak cemas menghadapi persalinan. Mengurangi rasa cemas dengan cara memberi penjelasan tentang prosedur dan maksud dari setiap tindakan yang akan dilakukan, memberi kesempatan ibu dan keluarga untuk bertanya tentang hal yang belum jelas, menjelaskan setiap pertanyaan yang diajukan bila perlu dengan alat peraga, memberi informasi apa yang dialami oleh ibu dan janinnya dalam hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.

4.    Dukungan psikologi.
Dukungan psikologi dapat diberikan dengan bimbingan dan menanyakan apakah ibu perlu pertolongan. Meningkatkan perasaan aman dengan memberikan dukungan dan memupuk rasa kepercayaan dan keyakinan pada diri ibu bahwa ia mampu untuk melahirkan. Berikan kenyamanan, berusaha menenangkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani proses persalinan. Memberikan perhatian agar dapat menurunkan rasa tegang sehingga dapat membantu kelancaran proses persalinan.

5.    Membantu ibu memilih posisi.
Posisi pada saat meneran tergantung pada keinginan ibu dalam memilih posisi yang paling nyaman dirasakan ibu.
Adapun posisi-posisi meneran, yaitu:
Duduk atau setengah duduk
Dengan posisi ini penolong persalinan lebih leluasa dalam membantu kelahiran kepala janin serta lebih leluasa untuk dapat memperhatikan perineum.

Merangkak
Posisi merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan rasa sakit pada punggung, mempermudah janin dalam melakukan rotasi serta peregangan pada perineum berkurang.

Jongkok atau berdiri
Posisi jongkok atau berdiri memudahkan penurunan kepala janin, memperluas panggul sebesar 28% lebih besar pada pintu bawah panggul, memperkuat dorongan meneran. Namun posisi ini berisiko terjadinya laserasi (perlukaan jalan lahir).

Berbaring miring ke kiri
Posisi berbaring miring ke kiri dapat mengurangi penekanan pada vena cava inferior sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia, karena suplay oksigen tidak terganggu, dapat member suasana relaksasi bagi ibu yang mengalami kecapekandan dapat pencegahan terjadinya laserasi/robekan jalan lahir.

Hindari posisi terlentang
Pada posisi terlentang dapat menyebabkan:
  1. Hipotensi dapat berisiko terjadinya syok dan berkurangnya suplay oksigen dalam sirkulasi uteroplacenta sehingga dapat menyebabkan hipoksia pada janin.
  2. Rasa nyeri yang bertambah.
  3. Kemajuan persalinan bertambah lama.
  4. Ibu mengalami gangguan untuk bernafas.
  5. Buang air kecil terganggu.
  6. Mobilisasi ibu kurang bebas.
  7. Ibu kurang semangat.
  8. Resiko laserasi jalan lahir bertambah.
  9. Dapat mengakibatkan kerusakan pada syaraf kaki dan punggung.

6.    Bimbingan cara meneran (mengejan)
Penolong persalinan menganjurkan ibu untuk meneran bila ada dorongan yang kuat dan spontan untuk meneran. Membimbing pernafasan yang adekuat, penolong tidak diperkenankan meminta ibu untuk meneran secara terus-menerus tanpa mengambil  nafas saat meneran atau tidak boleh meneran sambil menahan nafas. Penolong sebaiknya menyarankan ibu untuk beistirahat dalam waktu relaksasi kontraksi. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi agar ibu tidak kelelahan dan menghindari resiko asfiksia karena suplay oksigen melalui plasenta berkurang.

7.    Pemberian nutrisi
Ibu bersalin perlu diperhatikan pemenuhan kebutuhan cairan, elektrolit dan nutrisi. Hal ini untuk mengantisipasi ibu mengalami dehidrasi. Dehidrasi pada ibu bersalin dapat berpengaruh terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang penting artinya dalam menimbulkan kontraksi uterus.

8.    Menjalankan prinsip pencegahan infeksi.

9.    Mengusahakan kandung kencing kosong
Dengan cara membantu dan memacu ibu mengosongkan kandung kencing secara teratur.

Pemantauan terhadap kesejahteraan ibu :
  1. Mengevaluasi his (kontraksi uterus) berapa kali terjadi dalam 10 menit (frekuensi his), lamanya his dan kekuatan his serta kaitan antara ketiga hal tersebut dengan kemajuan persalinan.
  2. Mengkaji keadaan kandung kencing dengan menganamnese ibu dan melakukan palpasi kandung kencing untuk memastikan kandung kencing kosong.
  3. Mengevaluasi upaya meneran ibu efektif atau tidak.
  4. Pengeluaran pervaginam serta penilaian serviks meliputi effasment (pendataran serviks) dan dilatasi serviks (pembukaan).

Observasi terhadap kesejahteraan janin.
  1. Penurunan kepala, presentasi dan sikap.
  2. Mengkaji kepala janin adakah caput atau moulage.
  3. Denyut jantung janin (DJJ) meliputi frekuensi, ritmenya dan kekuatannya.
  4. Air ketuban meliputi warna, baud an volume.
Saat bayi lahir
Nilai kondisi bayi (0-30 detik) dengan menjawab 2 pertanyaan, apakah bayi menangis kuat dan atau tanpa kesulitan? Apakah bayi bergerak aktif atau lemas?

Kondisi yang harus diatasi sebelum penatalaksanaan kala II
  1. Syok
  2. Dehidrasi
  3. Infeksi
  4. Preeklampsia/eklampsia
  5. Inersia uteri
  6. Gawat janin
  7. Penurunan kepala terhenti
  8. Adanya gejala dan tanda distosia bahu
  9. Pewarnaan mekonium pada cairan ketuban
  10. Kehamilan ganda/kembar
  11. Tali pusat menumbung/lilitan tali pusat


D.  Standar Pelayanan Kebidanan
Standar Pelayanan Kebidanan yang berisi mengenai persalinan Kala II yang aman, terdapat pada standar 10.
Hal yang perlu diperhatikan dalam persalinan Kala II yang aman yaitu 3 Bersih:
  1. Tangan Bersih,
  2. Tempat pertolongan persalinan bersih,
  3. Pengikatan dan pemotongan tali pusat dilakukan secara bersih.

Lagu APN

TANDA GEJALA KALA II
Do-ran, tek-nus, per-jol, vul-ka
SIAPKAN ALAT SIAPKAN DIRI
Celemek, cuci, sarung, oksi
PASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP
Bersih, PD, celup, DJJ
SIAP IBU DAN KELUARGA
Beritahu ibu bapak

PIMPINAN IBU NTUK MENERAN
2,3,1 langkah
SIAP SIAP UNTUK MENOLONG
Handuk, bokong, buka sarung
TOLONG KEPALA, BAHU, BADAN
3,1,2, langkah
PENANGANAN BAYI BARU LAHIR
2,3,2,2 langkah

MANAJEMEN AFTIP KALA III
Ini materi utama
PTT, PLASENTA, MASSAGE
3,2,1,
PERDARAHAN SEGERA PERIKSA
Plasenta dan robekan
PASCA TINDAKAN TUJUH BELAS
Empat, eval, bersih, aman, parto


1 komentar:

wini ananda said...

makasih infonya, ini info yang saya cari

Salam Sehat: Cara Meningkatkan Trombosit Darah

Post a Comment