Subscribe:

Tentang Template :

Asma pada Kehamilan

Asma merupakan salah satu kondisi medis kronik yang kerap dijumpai pada kehamilan dengan prevalensi asma pada kehamilan sebesar 1-4 persen. Asma didefinisikan sebagai suatu penyakit peradangan (inflamasi) kronik saluran napas (saluran tracheobronchial) yang ditandai oleh peningkatan respons saluran napas terhadap berbagai stimulus (rangsangan). Asma seringkali berkaitan dengan riwayat alergi pada pasien dan/ atau keluarganya.


Pada asma terjadi hambatan aliran udara pernapasan yang bersifat reversibel dengan episode serangan asma ditingkahi oleh periode bebas gejala asma. Peradangan saluran napas menyebabkan menyempitnya diameter lumen saluran napas akibat kontraksi otot polos, bendungan pembuluh darah, pembengkakan dinding bronchial, dan sekresi mukus yang kental.


Gejala-gejala asma antara lain meliputi batuk, sesak napas, napas berbunyi, dan episode kambuhan gejala serangan asma. Pemeriksaan fisik dapat normal selama periode remisi (tidak sedang serangan asma atau selama periode bebas gejala asma). Pencetus asma  meliputi pajanan terhadap berbagai alergen (tungau debu rumah, debu, bulu binatang, jamur, dll), zat iritan (asap rokok, asap dari kayu yang terbakar, polusi udara, bau yang kuat seperti parfum, dll), kondisi medis (influenza, infeksi saluran pernapasan baik akibat bakteri maupun virus, refluks gastro-esofagus/ regurgitasi isi lambung ke esofagus atau saluran makanan, dll) obat-obatan (aspirin, obat-obat anti inflamasi  non-steroid, dll), olahraga, stres emosional, dan perubahan cuaca (terutama udara dingin).


Pengaruh kehamilan terhadap asma tidak bisa diprediksi. Diperkirakan 1/3 perempuan hamil yang telah menderita asma sebelum hamil mengalami perburukan gejala asmanya, 1/3 kasus mengalami perbaikan, dan 1/3 kasus lainnya tidak mengalami perubahan gejala asma selama kehamilan. Perempuan dengan asma berat dan/ atau asma yang terkontrol buruk memiliki risiko tinggi untuk terjadinya komplikasi kehamilan (seperti pre-eklampsia, perdarahan rahim, dan komplikasi saat melahirkan) dan pengaruh buruk pada janin (seperti kematian perinatal, pertumbuhan janin terhambat, kelainan kongenital, lahir prematur, berat lahir rendah, dan kekurangan oksigen). Pada saat ibu mengalami serangan asma, janin mungkin tidak cukup mendapatkan oksigen sehingga dapat menyebabkan bahaya pada janin. Semakin berat asma, semakin besar risiko untuk janin.


Oleh karena itu, seyogianya perempuan hamil yang menderita asma tidak menghentikan pengobatan asmanya tanpa berkonsultasi ke dokter. Tatalaksana asma untuk pasien rawat jalan sama antara pasien asma yang hamil dan yang tidak hamil. Inhaler berisi obat agonis beta-adrenergik yang bekerja untuk memperbaiki hambatan aliran udara merupakan terapi utama untuk mengatasi serangan asma dan mengatasi asma ringan. Untuk kasus asma persisten sedang, obat tersebut dikombinasikan dengan inhaler berisi obat kortikosteroid yang digunakan untuk pencegahan jangka panjang dan mengontrol gejala asma. Obat kortikosteroid tersebut mencegah pembengkakan dan sekresi mukus yang terjadi akibat peradangan saluran napas pada pasien asma.


Upaya untuk mencegah serangan asma sangat perlu dilakukan dengan cara mencegah pajanan terhadap pemicu asma. Berhenti merokok, hindari berada di sekitar orang yang sedang merokok, hindari makan dalam jumlah yang banyak atau langsung berbaring setelah makan jika memiliki gejala refluks lambung-esofagus, jauhi orang yang sedang menderita influenza atau infeksi lainnya, hindari berbagai hal yang telah diketahui dapat menyebabkan alergi, dan hindari pemicu asma yang sudah diketahui. Jika terjadi serangan asma segera mencari pertolongan medis ke instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat.

0 komentar:

Post a Comment